Bogor, 20 Agustus 2025 – Suasana ceria dan penuh semangat menyelimuti Museum Ostomi Indonesia pada Rabu pagi. Museum yang berlokasi di Perumahan Taman Sari Persada Blok H1 No.6, Cibadak, Tanah Sareal, Bogor, ini menjadi saksi sebuah kegiatan yang tidak hanya memanen sayuran, tetapi juga memanen kebahagiaan, harapan, dan semangat hidup bagi para penyintas ostomi (ostomate).
Kegiatan panen perdana tanaman hidroponik ini dihadiri secara khusus oleh komunitas Ostomate InOA (Indonesia Ostomy Association) Bogor. Acara ini merupakan puncak dari proses panjang merawat dan membesarkan tanaman yang dilakukan secara bersama-sama, sekaligus menjadi simbol dari pertumbuhan dan kehidupan baru yang senantiasa diperjuangkan oleh setiap ostomate.
Acara dibuka secara resmi oleh Manager Museum Ostomi Indonesia, Ns. Tomi Abas, S.Kep., WOC(ET)N. Dalam sambutannya, Tomi menekankan pentingnya terapi hortikultura bagi kesehatan mental dan fisik. “Bercocok tanam, merawatnya dengan sabar, dan akhirnya memanen hasilnya adalah sebuah metafora yang indah bagi perjalanan hidup kita, khususnya para ostomate. Kegiatan ini melatih kesabaran, memberi rasa tanggung jawab, dan yang paling utama, memberikan kepuasan batin yang luar biasa,” ujarnya.
Selanjutnya, Ibu Sri Widayati, Pembina Yayasan WOCare Indonesia, memberikan sambutan yang menginspirasi. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif dan konsistensi komunitas InOA Bogor. “Museum Ostomi hadir bukan hanya sebagai tempat edukasi, tetapi juga sebagai rumah kedua bagi para ostomate. Setiap kegiatan yang dilakukan di sini, seperti hidroponik ini, adalah bagian dari proses healing dan penguatan untuk menunjukkan bahwa hidup sebagai ostomate tetap bisa produktif dan penuh warna,” tutur Sri Widayati.
Sebelum memasuki momen inti panen, Ketua InOA Bogor Bapak Mumuh munadju melakukan evaluasi terhadap seluruh tanaman hidroponik yang telah ditanam beberapa minggu sebelumnya. Dengan teliti, beliau memeriksa kualitas tanaman, sistem irigasi, dan memberikan arahan untuk perawatan ke depannya. Evaluasi ini sekaligus menjadi momen edukasi bagi para anggota untuk terus meningkatkan kualitas budidaya mereka.
Usai evaluasi, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: panen bersama. Dengan riang gembira, para ostomate memetik daun selada, kangkung, dan sayuran hijau lainnya yang tumbuh subur dalam sistem hidroponik. Tawa dan canda mewarnai proses panen, mencerminkan kebersamaan dan kegembiraan yang mereka rasakan. Hasil panen yang segar dan organik tersebut kemudian dibagikan kepada para peserta untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Namun, semangat untuk terus tumbuh tidak berhenti pada panen saja. Seusai memanen, kegiatan dilanjutkan dengan menanam bibit kembali. Para ostomate dengan penuh antusiasme menyiapkan rockwool, menanam benih, dan merapihkannya kembali di rak hidroponik. Aktivitas ini menandakan sebuah siklus kehidupan yang berkelanjutan—setelah menuai hasil dari kerja keras, maka disiapkan lagi generasi baru untuk masa depan yang lebih baik.
Kegiatan panen hidroponik ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam biasa. Ini adalah sebuah terapi, sebuah wadah silaturahmi, dan bukti nyata bahwa dengan dukungan, semangat, dan lingkungan yang positif, setiap individu, termasuk ostomate, dapat terus berkarya dan menikmati kehidupan yang berkualitas. Museum Ostomi Indonesia sekali lagi membuktikan komitmennya sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan yang menyentuh hati dan menginspirasi tindakan.
Museum Ostomi Indonesia adalah museum pertama dan satu-satunya di Indonesia yang didedikasikan untuk edukasi tentang ostomi dan perawatan luka. Berdiri di bawah naungan Yayasan WOCare Indonesia, museum ini menjadi pusat informasi, konsultasi, dan komunitas bagi para ostomate dan tenaga kesehatan di Indonesia.